Musik, Teman, Minuman, Mana yang Lebih Menyembuhkan?

“I hope everything’s alright! Stay safe Wataru!”

Saya meninggalkan sebuah komentar pada foto yang diunggah seorang teman di Jepang. Jepang dilanda Topan Jebi, sebuah bencana besar yang diklaim sebagai topan terkuat dalam 25 tahun terakhir. Angin Topan Jebi membawa hujan deras di bagian barat Jepang pada Selasa (4/9) dengan angin berkecepatan maksimal 216 km/jam. Topan merusak sejumlah fasilitas publik. Bandara ditutup, jembatan ambruk, mengakibatkan korban tewas, dan ratusan lainnya mengalami cedera.

gruvi.JPG
sumber: instagram @groovymusicbar

Wataru mengunggah foto bar miliknya di kawasan Nishinari-ku, Osaka. Bar itu terlihat tidak mengalami kerusakan berarti, meski sekelilingnya terlihat porak poranda. Wataru adalah salah satu dari orang-orang baik yang saya temui di Jepang. Saya menemukan Groovy, sebuah guest house miliknya melalui aplikasi Airbnb 2 tahun lalu. Sejak itu kami masih saling kontak melalui sosial media. Groovy menjadi salah satu tempat yang paling saya rindukan di Jepang. Seperti rumah di tempat yang asing, yang memberikan perasaan hangat dan tempat untuk mandi air hangat.

Pertemuan ini bermula pada musim gugur 2016, ketika saya nekat pergi ke Jepang sendirian untuk mencari pelarian dari kehidupan yang sedang sedikit kacau. Saya mencari sebuah guest house yang tidak terlalu mahal karena tentu saja saya tidak mampu menyewa yang mahal. Melalui filter harga, saya menemukan Groovy Guest House. Foto dan deskripsi tempat ini sangat menarik perhatian saya. Groovy digambarkan memiliki dekorasi vintage dengan music bar sebagai tempat para tamu berkumpul. Saya langsung jatuh hati, lalu menyewa tempat ini untuk 3 malam.

Hari itu saya bertolak dari Tokyo menggunakan kereta cepat, lalu dilanjutkan dengan naik kereta bawah tanah. Saya sampai di Osaka saat sudah gelap. Berbekal petunjuk yang diberikan Wataru melalui pesan singkat, saya turun di stasiun Dobutsuen-Mae. Tangga keluar dari stasiun itu berada di sebuah perempatan jalan. Saya terdiam celingak-celinguk, mencari Groovy Bar. Tidak berhasil menemukannya, saya lalu mencoba memelototi peta elektronik di ponsel saya.

“Helloo..” suara seorang pria seperti menegur saya dari belakang. Saya tidak menggubrisnya, saya mengira ia sedang menegur orang lain, saya juga takut disapa pria tak dikenal saat waktu menunjukkan pukul 9 malam waktu Jepang. Saya terdiam pura-pura tidak mendengarnya. Lalu fokus pada ponsel saya.

“Hello… Ira??” , pria itu menyapa saya lebih keras lagi. Saya menengok dengan sedikit terkejut. “Mas-mas Jepang ini kok bisa tahu nama saya?” , pikir saya dalam hati.

“Saya Wataru.. Udah ditungguin dari se-jam yang lalu, takutnya kamu nyasar…” , ia bicara dengan bahasa Inggris berlogat Jepang, sambil menyodorkan tangan mengajak salaman. Mendadak muka saya berubah sumringah, dan saya pun menghembuskan napas lega. Tanpa saya sadari sudah 10 menit saya berdiri hanya 3 langkah dari Groovy Bar. Saya tidak melihat papan nama bar itu, karena berdiri terlalu dekat. Memang saat pergi sendirian kamu akan rentan melakukan hal-hal bodoh yang membuat malu diri sendiri.

87926779827252677.jpg
Papan namanya agak gelap

Wataru mengajak saya masuk dan berkeliling guest house, menunjukkan setiap sudut ruangan dan perlengkapan yang bisa saya pakai. Groovy memiliki 1 kamar pria dan 1 kamar wanita yang letaknya terpisah oleh tangga yang berbeda. Setelah berkeliling, Ia memperkenalkan saya pada teman-teman sekamar saya. Kamar itu berisi 3 buah kasur tingkat yang bisa menampung 6 orang. Tapi hari itu kamar wanita hanya berisi 4 orang saja. Teman se-bunk bed saya adalah seorang wanita asal Taiwan bernama Yu Zo. Ia tersenyum ramah menyambut saya, lalu mengomentari bantal leher bermotif BB-8 yang saya bawa, “Ahhh You like Star Wars too!”.

16681514_10155164048839474_5891217849834871840_n.jpg
kasur yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan

Saya cepat akrab dengan Yu Zo, selain karena karakternya yang ceria, mungkin karena kami sama-sama suka Star Wars. Ia bercerita kalau ia belum sempat menonton film Star Wars terbaru (saat itu Rogue One), karena ia tak bisa berbahasa Jepang. Bioskop di Jepang menayangkan film ini dengan subtitle Jepang, atau bahkan di-dubbing menggunakan bahasa Jepang. Sementara kemampuan berbahasa Inggris Yu Zo juga tak terlalu baik, maka ia tidak nyaman dengan bioskop yang menggunakan subtitle bahasa Inggris. Ia harus bersabar untuk menonton film ini di Taiwan, entah kapan. Yu Zo memang berencana tinggal di Jepang dalam 2 tahun ke depan, karena ia tengah mengambil studi Bahasa Jepang di salah satu Universitas di Osaka.

DSCF2420.JPG
pintu depan Groovy guest house

Saat kami tengah berbincang-bincang, Wataru mengajak kami ke bar yang terletak di bagian depan guest house ini. Ia ingin memperkenalkan saya dengan orang-orang lain yang sedang bermalam saat itu. Dinding bar dipenuhi dengan poster musisi-musisi kenamaan dunia. Rak-raknya dihiasi dengan pernak-pernik warna-warni, mejanya beralaskan kaca yang dilapisi dengan kartu pos dari berbagai negara. Pada salah satu sudutnya terdapat turn table yang tersambung ke speaker.

DSCF2390.JPG
bagian dalam bar
16708719_10155164049069474_7181580252839827455_n.jpg
Groovy Bar 2017
DSCF3929.JPG
Groovy Bar 2018

Wataru menawari saya minuman. Ia merekomendasikan sake, karena saya belum pernah mencobanya. Malam itu bar kecil Wataru memutar berbagai macam musik yang dipilihnya sendiri dari koleksi-koleksi piringan hitamnya. Saya senyum-senyum kegirangan aja, soalnya bagi saya, mewah banget bisa mendengarkan musik dari piringan hitam. Malam itu saya berkenalan dengan Cherie dari Australia, Ah Zhu dari Malaysia, dan seorang ibu dari Singapura. Ibu yang saya lupa namanya ini sudah memasuki usia 60 tahun, tapi hebatnya, ia pergi liburan sendirian di Jepang.

DSCF2418.JPG
tangga ke kamar wanita di samping pintu menuju bar

“Rencananya saya mau menginap di Osaka selama 7 hari. Maklum lah, sudah tua, harus pelan-pelan jalannya..” ia bercerita sambil menawarkan buah yang saya tidak tahu namanya. Buahnya enak banget, katanya sih lagi musim buah ini di Jepang. Belakangan saya baru tahu kalau itu buah kesemek, saya sempat lihat harganya di supermarket, karena mahal, saya enggak jadi beli.

Ini pertama kalinya ibu itu liburan sendiri di usia senja. Ia pun menyemangati saya untuk bepergian ke belahan dunia lainnya, mumpung masih muda. Ah Zhu mengangguk-angguk setuju. Itulah salah satu alasan ia pergi sendirian selepas lulus sekolah menengah. Sebelum studinya di universitas dimulai, Ah Zhu ingin menikmati liburan sendirian. Cherie tidak banyak bicara, hanya ikut menyimak dan sesekali tertawa. Setelah menenggak habis minumannya, ia pamit ke kamar duluan untuk menonton film di laptop. Yu Zo dan Wataru hanya cekikikan sambil geleng-geleng kepala. Menurut mereka, Cherie dari kemarin lebih suka menghabiskan waktu di kamar untuk menonton film di laptopnya. Dia baru pergi jalan-jalan pada siang hari. Sepertinya dia tidak terlalu suka dinginnya angin musim gugur.

DSCF2387.JPG
Wataru bersikeras menolak tip dari kembalian bayar minuman, karena di Jepang tidak ada budaya memberi tip.

Malam itu kami mengobrol banyak, mulai dari impian Yu Zo menjadi fotografer meski ia lulusan teknik, pekerjaan Wataru sebagai produser musisi reggae Jepang, juga tentang budaya dari tempat asal kami, yang meski satu benua tapi banyak perbedaannya, soal bahasa, sampai cara membuang tisu toilet.

“Kemarin ada turis Korea yang buang tisu di tempat sampah yang ada di WC. Makanya saya tulis pakai hangul, untuk tidak membuang tisu di situ. Ternyata di negara mereka, itu hal biasa (untuk membuang tisu di tempat sampah)” , saya nyengir, karena saya juga baru tau mengenai hal itu saat tiba di Jepang. Orang Jepang biasa membuang tisu toilet ke kakus, lalu di-flush. Saya tau karena membaca petunjuk yang ditulis di setiap toilet umum.

“Di Indonesia juga begitu, kami malah dilarang untuk membuang tisu ke kakus, karena bisa bikin tersumbat” jelas saya sambil meminta persetujuan ke Ah Zhu yang negaranya masih tetanggaan. Wataru sedikit terkejut, lalu setengah bercanda ia berniat membuat tulisan dalam bahasa Indonesia juga untuk mengingatkan hal ini pada tamu-tamunya mendatang.

Selama 3 malam di Groovy guest house, kami menjadi semakin akrab. Pagi hari kami pergi beraktivitas ke tujuan masing-masing, lalu tanpa dikomando, setiap jam 8 malam kami (kecuali ibu dari Singapura) berkumpul di Bar. Yu Zo membawa tugas dari kampusnya untuk ditanyakan pada Wataru, Ah Zhu memesan minuman non-alkohol, Cherie menenggak sebotol bir sebelum melanjutkan menonton film di laptop. Sesekali bar kedatangan tamu dari luar. Salah satunya pria Meksiko yang tidak bisa berbahasa Inggris. Ia mengambil gitar milik Wataru dari sudut ruangan, lalu menyanyikan beberapa lagu, salah satunya lagu yang ia ciptakan. Meskipun tidak paham liriknya, kami tetap bisa menikmati lagunya. Musik memang se-ajaib itu ya.

DSCF2394.JPG
turis Meksiko yang ternyata musisi Indie di negara asalnya
16602899_10155164050444474_3250905677240735518_n.jpg
Wataru, Ah Zhu, Saya.

Bagi saya pulang ke Groovy seperti pulang ke rumah, ada orang-orang yang siap mendengarkan kesialan sepanjang perjalanan, hal menarik yang saya temui, sampai bertukar lagu-lagu baru untuk didengarkan. Wataru meracuni saya dengan beberapa band Jepang yang keren, juga rekomendasi tempat-tempat makan di Osaka, yang tidak tertulis di blog-blog perjalanan.

DSCF3932.JPG
Wataru setahun kemudian
DSCF3936.JPG
Saya saat menyambangi Osaka kembali pada Februari 2018
DSCF3940.JPG
Saya dan Yu Zo di depan Groovy Bar

Tanpa mereka sadari, Groovy menjadi tempat favorit saya di Osaka, menjadi bagian penting dalam broken heart trip saya kala itu, seperti sebuah pemulihan yang tidak sengaja saya temukan. Saya meninggalkan Groovy dengan harapan akan tahun depan yang lebih seru lagi. Mereka telah menyemangati saya, lebih dari yang mereka maksud. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan saya kembali setahun kemudian, tentunya selain karena takoyaki, dan makanan enak lainnya di Osaka. Osaka telah menjadi tempat kedua yang selalu saya rindukan selain rumah. Sampai nanti, sampai saya nyasar lagi 🙂 .

Doa saya untuk Jepang dan seisinya, semoga semua lekas membaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: