Makan Apa Selama di Vietnam? (Pemberhentian I: Hanoi)

“Makan apa ya di Vietnam?”

Suatu pagi yang cukup adem, saya mendarat di Noibai International Airport. Salah satu tujuan ke Vietnam adalah menikmati kulinernya yang entah bagaimana, saya enggak terlalu familiar dengan makanan Vietnam, dan belum pernah mencobanya juga di Jakarta. Berbekal beberapa saran dari orang-orang di internet, saya pun membuat daftar makanan yang wajib dicoba, sisanya berimprovisasi tergantung kondisi perut saja.

Saya mengunjungi 3 kota di Vietnam, yatu Hanoi, Nha Trang, dan Ho Chi Minh. Dari ketiga kota tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa Hanoi menjadi tempat terbaik untuk berburu makanan enak di Vietnam, bahkan kamu bisa mencoba berbagai hal di sebuah area turis bernama Old Quarter. Inilah hasil beburu makanan (termasuk camilan dan minuman) selama saya menginap 3 hari 2 malam di Hanoi.

Sữa chua nếp cẩm / Yogurt Ketan

doj9xcyu0aandbc.jpg
yogurt ketan

Yogurt pakai ketan, atau ketan pakai yogurt, saya agak enggak ngerti konsepnya sih. Saat itu siang panas terik, saya baru saja sampai di hostel di Hanoi. Saya pun mencari kesegaran di mini market terdekat (Circle K), dan pilihan jatuh kepada Yogurt ini. Awalnya saya enggak tau juga ini jenis makanan atau minuman, lalu setelah mencobanya, rasanya enak juga ternyata. Bayangkan ketan yang manis (seperti ketan di bubur kacang ijo) disiram dengan yogurt yang asam. Setelah saya mencoba mencari arti kata yang tertera di kemasannya, ternyata sữa chua nếp cẩm itu dalam bahasa Inggris berarti rice yogurt.

Lokasi: Circle K atau mini market terdekat.

Harga: lupa, sekitar 10 ribu rupiah.

Penilaian: hanya menebak, untung enak.

Bún chả đắc kim

bun7
sejak 1966

Tempat berikutnya saya temukan berdasarkan rekomendasi orang-orang di internet. Tempat ini sepertinya cukup terkenal, karena dari sekian banyak blog dan artikel yang menulis tentang kuliner Vietnam, tempat ini pasti disebut. Bún chả adalah daging giling khas Vietnam. Makanan ini menjadi salah satu menu khas Hanoi. Bún chả biasa disajikan dengan sohun, acar, dan sayuran segar.

Sebenarnya kita bisa menemukan banyak tempat menjajakan bún chả di sekitar Hanoi, tapi Bún chả đắc kim menjadi salah satu yang paling diburu wisatawan, selain karena tempat makan ini legendaris, tentu karena rasanya memang enak banget. Tempat ini terlihat hanya seperti kios kecil saja dari luar, tapi tempat ini menyimpan kenikmatan yang bikin saya terbayang-bayang sampai pulang ke rumah. Saya yang baru pertama kali makan bún chả agak kebingungan karena semua bagiannya disajikan secara terpisah. Lalu dengan sedikit menyontek cara makan orang di meja sebelah, saya mencoba bún chả dengan menyajikan sohun di mangkok, lalu sayuran segar (saya enggak tahu sayuran apa saja, agak berbeda dengan daun lalapan di Indonesia), lalu letakkan bún chả di atasnya siram dengan kuah acar.

Selain bún chả yang menjadi menu utama di sini, masih ada lumpia kepiting goreng yang enaknya enggak karuan, sampai ingin memeluk ibu-ibu yang menggorengnya. Saya enggak begitu paham isian lain dari lumpia ini selain daging kepiting. Daging kepitingnya sangat lembut dan banyak, membuat setiap gigitanya sangatlah berharga. Saya mencoba berbagai lumpia selama 6 hari di Vietnam, tapi enggak ada lumpia kepiting seenak yang dijual oleh Bún chả đắc kim. Saat saya sadar, semuanya sudah terlambat untuk kembali ke Hanoi.

Lokasi: 1 Hàng Mành, Hàng Gai, Hoàn Kiếm.

Harga: 100.000 vnd untuk seporsi bún chả (cukup untuk makan berdua karena porsinya banyak banget) dan 2 buah lumpia kepiting.

Penilaian: Tidak akan bosan meski dimakan setiap hari.

Phó 10

pho3
ramai lancar

Tujuan selanjutnya adalah mencoba makanan Vietnam yang cukup terkenal, yaitu phó. Phó kalau digambarkan secara sederhana adalah mie kuah dengan tambahan potongan daging sapi. Sepanjang jalan-jalan di Vietnam, saya melihat berbagai jenis mi kuah, dengan nama yang berbeda-beda, beda isian, beda jenis mi, beda kuahnya, maka berbeda pula namanya. Phó pun memiliki isian sayuran yang saya tahu ada taugenya, sisanya saya enggak tau daun apa. Mi nya dibuat dari tepung beras. Potongan daging sapi yang dihidangkan di mangkok biasanya masih setengah matag, lalu akan menjadi matang setelah disiram dengan kuah panas yang terbuat dari kaldu sapi. Kuah kaldu ini yang menjadikan Phó memiliki rasa khas. Konon proses penggodokkan daging sapi, tulang sapi, dan buntut sapi untuk menjadi kuah kaldu ini memakan waktu sampai seharian, demi mendapatkan kuah yang bening namun kental.

pho4
chef-nya malu difoto

Phó bisa ditemukan di segala sudut di Vietnam, tapi Phó 10 menjadi rekomendasi banyak orang, selain karena restoran ini memiliki banyak cabang, mungkin karena rasanya juga sudah terjamin enak. Terbukti, restoran Phó 10 yang saya datangi dipadati pengunjung lapar pada jam makan malam. Bahkan saking penuhnya, sudah menjadi budaya untuk duduk makan semeja dengan orang asing. Sebuah pengalaman yang cukup canggung, karena harus makan bertatapan dengan orang asing, tapi ada hikmahnya juga sih. Saya dan seorang teman duduk berhadapan dengan dua orang wanita. Mereka memesan cakwe sebagai pelengkap makan phó, yang tentu langsung kami tirukan. Hasilnya, kami merasa sudah memakan phó seutuhnya dengan tambahan cakwe yang renyah ini. Celupkan cakwe sedikit ke kuah phó untuk mendapat efek nikmat yang lebih dramatis.

Lokasi: 10 Lý Quốc Sư, Hàng Trống, Hoàn Kiếm.

Harga: 40.000-100.000 vnd untuk seporsi phó tergantung jenis topping yang diinginkan.

Penilaian: Kental dan hangatnya masih melekat.

Keong

DSCF1555.JPG
keong dengan saus dan daun (lagi)

Suatu malam saya dan seorang teman berkeliling di pasar malam Old Quarter. Sebuah kios makanan yang menjual keong terlihat dipadati orang-orang yang lapar. Ada untungnya mengajak seorang teman pemakan segala dalam sebuah wisata kuliner, dengan sigap ia mengajak saya mencoba keong. Seperti kios-kios makan lainnya di sepanjang Old Quarter, tempat ini juga tidak terlalu besar. Kursi dan mejanya sangat kecil, sehingga kita duduk seperti setengah jongkok, atau biasa disebut nongkrong.

Menu utama kios ini adalah keong, dengan pilihan lainnya adalah beberapa jenis kerang. Berhubung saya enggak bisa bahasa Vietnam, dan penjualnya juga enggak piawai berbahasa Inggris, kami hanya menunjuk kertas menu untuk memesan keong, dan enggak bertanya lebih lanjut mengenai asal-usul keong ini. Seporsi keong dihidangkan dengan saus cocolan yang dilengkapi dengan dedaunan yang enggak saya kenali jenisnya, serta sebuah tusukan besi dan jeruk nipis. Keong ini hanya direbus tanpa menggunakan bumbu apapun. Saya dan teman melirik ke meja sebelah untuk meniru cara mengeluarkan keong dari cangkangnya untuk dimakan. Rasanya sangat eksotis, kenyal dan gurih dan sedikit amis, mengingatkan saya dengan gonggong, makanan laut khas Riau yang sangat saya rindukan.

Lokasi: di sebuah jalan sekitar Old Quarter, enggak ingat letaknya karena enggak sengaja ditemukan.

Harga: 70.000 vnd untuk seporsi keong

Penilaian: hampir mirip gonggong, tapi enggak seenak gonggong, enggak mirip tutut.

Daging Panggang di Old Quarter

bbq.jpg
awalnya dibantuin, lalu masak sendiri

Ketika berkeliling di pasar malam, saya sampai pada suatu sudut jalan yang terdapat jejeran kios yang menyajikan daging panggang. Konsep makannya dengan cara memasak sendiri daging-daging yang disediakan di atas tungku yang diberi alumunium foil di atasnya. Kamu bisa memilih daging atau seafood untuk menu yang kamu inginkan. Saya memilih daging, karena sangat lapar. Seporsi menu yang diberikan terdiri atas daging sapi, daging ayam, daging babi, potongan bawang bombay, tomat, dan terong, selada, dan sepotong roti bagguete khas Vietnam (bánh mì). Saya menyukai semua bagian dari menu ini, kecuali rotinya yang terlalu kasar itu.

DSCF1558.JPG
dipanggang dengan mentega

Lokasi: Pasar Malam Old Quarter, lupa tepatnya di mana, tapi jika menyusuri pasar malam itu kamu akan menemukan area ini.

Harga: 100.000 vnd per orang, belum termasuk minuman.

Penilaian: Seperti barbekyu darurat, tapi rasanya gawat.

Egg Coffee (cafe trứng) Giang

2773350731160159031.jpg
nyempil tapi selalu dicari

Pagi sekali saya bangun demi mencicipi egg coffee Giang yang sangat terkenal ini. Saya sempatkan bangun lebih awal, lalu memesan layanan ojek Go-Viet untuk meluncur ke Kafe Giang sebelum bertolak ke Nha Trang. Pintu masuk kafe ini terlihat seperti sebuah gang sempit, namun di dalamnya terdapat kafe kecil 2 lantai yang menyajikan berbagai kopi terbaik di Vietnam. Jangan membayangkan tempat yang fancy seperti kafe-kafe tongkrongan anak gaul Jakarta Selatan. Kafe Giang seperti halnya kios-kios makanan di Vietnam hanya menyediakan meja-meja kecil dengan kursi nongkrong. Meskipun begitu, sejak jam 7 pagi, waktu dibukanya kafe ini, tempat ini sudah dipadati penikmat kopi dari berbagai usia. Bapak kasir dengan ramah menyambut saya yang baru datang, lalu mempersilakan saya duduk di lantai 2.

coffee
egg coffee yang kental

Saya memesan egg coffee dingin atas rekomendasi seorang teman. Egg coffee alias kopi telur adalah kopi yang ditambahkan kocokan telur yang menjadi buih dan susu kental manis. Rasanya sangat creamy, dengan manis yang pas, membuat kopi ini menjadi menu andalan Kafe Giang. Selain egg coffee, kafe ini juga menyediakan minuman lainnya seperti coklat, jus, teh, yogurt, dan teh.

Lokasi: 39 Nguyễn Hữu Huân, Hàng Bạc, Hoàn Kiếm.

Harga: 25.000 vnd untuk egg coffee, minuman lainnya berkisar antara 25.000-50.000 vnd.

Penilaian: nikmatnya bukan untuk coffee snob yang nanya-nanya biji kopinya apa.

Hasil berburu makanan di Hanoi membuat saya ingin mampir kembali ke Hanoi untuk sekali lagi merasakan kerenyahan lumpia kepiting di Bún chả đắc kim, tapi kota berikutnya sudah menunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: