Konser Efek Rumah Kaca: Pasar Itu (Tidak) Biasa Saja

Pasar Bisa Dikonserkan dok. pribadi
Pasar Bisa Dikonserkan (dok. pribadi)

Sudah terlalu rindu. Hanya itu yang membuat saya bela-belain datang ke Bandung di hari Jumat yang padat, untuk sebuah perhelatan konser. Pasar Bisa Dikonserkan, tajuknya. Konser ini menjadi konser tunggal pertama band pop yang tidak begitu ngepop itu, sejak 10 tahun yang lalu memulai Efek Rumah Kaca (ERK). Rasa rindu tidak menjadi berlebihan, karena ERK sempat rehat selama hampir 2 tahun akibat kepergian sang vokalis, Cholil, untuk menuntut ilmu di Amerika Serikat. Bahkan sebelum itu mereka lebih sering tampil dalam wujud alter egonya, yakni Pandai Besi.

Mural karya The Popo menyambut penonton di pintu masuk, dok. probadi
Mural karya The Popo menyambut penonton di pintu masuk (dok. pribadi)

Malam itu (18/9) Balai Sartika, Bikasoga, Bandung sudah disesaki muda-mudi. Saya datang 1 jam setelah gerbang dibuka pada jam 6 sore, namun antrean panjang masih terlihat di depan gerbang. Satu jam berlalu saya tak juga sampai cukup dekat dengan pintu gerbang. Entah apa yang menghambat di depan. Mungkin pemeriksaan barang atau pemindaian tiket, yang jelas orang-orang di kerumunan tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Tak lama dari dalam gedung terdengar intro lagu Tubuhmu Membiru…Tragis yang disusul sorak-sorai penonton dari dalam. Barisan yang tertahan di pintu gerbang pun ikut bersorak kepada panitia yang tak kunjung membiarkan mereka masuk. Lagu pun berganti dengan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, disusul dengan Mosi Tidak Percaya. Beberapa orang ikut bernyanyi di antrean, sebagian menggerutu, sementara yang lainnya memaki dengan bahasa sunda. Akhirnya, karena (mungkin) khawatir penonton semakin gelisah, panitia membiarkan kami masuk dengan hanya menyerahkan barcode yang sudah dicetak di kertas dan ditukar dengan gelang kertas sebagai penanda masuk.

gelang kertas (dok. pribadi)
gelang kertas (dok. pribadi)

Saya pun berlarian ke dalam gedung konser karena ERK sudah membawakan lagu keempat, Hujan Jangan Marah. “Rugi 3 lagu nih..” jerit saya pada seorang teman yang ikut berlarian. Sesampainya di dalam, saya berusaha cari posisi enak. Enak untuk memandang dan mendengar tentunya. Setelah nyempil sana-sini, menyerah juga akhirnya karena tinggi badan sudah mentok dan hanya bisa lihat ujung kepala Cholil yang ditutupi topi biru. Sesi pertama konser itu terlihat minimalis, seperti julukan yang melekat pada ERK. Tata cahaya yang tidak bisa dibilang megah, panggungnya yang sederhana berhiaskan tulisan besar sponsor acara dan tajuk konser, serta layar besar di belakang panggung yang menampilkan video yang berbeda sebagai latar belakang setiap lagu. Namun kesan minimalis itu tak terasa di telinga, karena musik dan lirik yang diusung ERK sangat jauh dari minimalis, malah cenderung kompleks dan magis. Meski vokal Cholil tidak terdengar jelas di telinga saya, entah karena tenggelam oleh suara penonton yang antusias ikut berkaraoke massal di semua lagu (beneran di semua lagu), atau karena tata suara yang memang kurang apik.

Sesi Pertama yang minimalis (dok. Ricky Dwi Algari)

Malam itu Cholil mengaku dituntut untuk banyak bicara di sela lagu dan lagi-lagi saya tidak mendengar dengan jelas apa yang Ia katakan. Sesekali Ia tertawa kecil, nampaknya ingin mencairkan suasana sambil menunggu jeda. Sesi pertama pun ‘pecah’ pada lagu Hilang, ketika Adrian, sang bassis yang rehat karena sakit hadir sebagai kejutan di panggung untuk membacakan nama-nama korban pelanggaran HAM yang hilang. “Cuma dia yang bisa membacakan nama-nama itu secara pas dengan habisnya lagu…” ungkap Cholil di akhir lagu. Berakhirnya sesi pertama ditandai dengan lagu Biru, sebuah track panjang yang terdiri dari dua fragmen, Pasar Bisa Diciptakan dan Cipta Bisa Dipasarkan, yang menjadi single pertama yang dirilis ERK untuk album ketiganya.

ERK fet. Meng membawakan Kenakalan Remaja di Era Informatika (dok. pribadi)
ERK fet. Meng membawakan Kenakalan Remaja di Era Informatika (dok. pribadi)

Pada sesi kedua, Cholil, Akbar, dan Poppy tampil memakai piyama. Pada sesi ini mereka mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi. Insomnia dipilih sebagai track pembuka, dibawakan bersama Monica Hapsari. Selanjutnya Jatuh Cinta Itu Biasa Saja dibawakan dengan syahdu bersama Tetangga Pak Gesang. Saking syahdunya, seorang gadis belia di samping saya belingsatan tidak karuan ketika turut menyanyikan bagian reff “Jatuh cinta itu biasa saja….”, mungkin dia teringat seseorang. Sesi kedua dilanjutkan dengan Debu-Debu Berterbangan bersama kolaborasi Bin Idris dari Sigmun dan Banyak Asap di Sana bersama Mondo Gascaro. Suasana berubah sedikit ceria dengan hadirnya Meng (Float) yang turut membawakan Kenakalan Remaja di Era Informatika. Sesi kolaborasi ini pun ditutup dengan hadirnya Ario dan Ale dari The Adams yang membawakan Cinta Melulu dengan gubahan khas The Adams dan sedikit mash up dengan lagu Konservatif milik The Adams pada ending-nya.

IMG_1680
bukan Ronald McDonald (dok. pribadi)

Sambil menunggu jeda menuju sesi ketiga, penonton pun dihibur dengan aksi badut sulap. Tak mau kalah, ERK naik ke panggung dengan tampilan badut, baju kuning, rambut merah keriting lengkap dengan riasannya. Kali ini mereka tidak tampil minimalis karena iringan string orchestra mengiringi penampilan di sesi ini. Lagu Melankolia menjadi pembuka yang apik.

Aransemen favorit saya jatuh pada lagu Desember yang membuat hati ini berdoa agar musim hujan segera tiba. Seperti belum puas mempermainkan emosi penonton, lagu Sebelah Mata dipilih sebagai penutup konser, lengkap dengan kehadiran Adrian yang turut bernyanyi di samping Cholil. Semua orang pun pulang dengan memori nya masing-masing tentang Pasar Bisa Dikonserkan, sebuah pasar yang tidak biasa saja.

IMG_1693
Adrian turut bernyanyi dalam “Sebelah Mata”

P.S : Efek Rumah Kaca membagikan sebuah lagu secara gratis saat konser, lagu berjudul Putih, yang memberikan efek ‘merenung’ seperti lagu Debu-Debu Berterbangan, bisa didengarkan dan di-download di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: