Tahun yang Menyenangkan untuk Weezerian

081717_ATL_Artist_Images_Weezer_1900x700.jpg
foto punya Atlantic Records

“Weezer tuh masih ada ya?” tanya seorang teman saat saya  hendak membayar sebuah sebuah cd di toko online.

“Masih ada banget, malah lagi produktif banget belakangan ini” jawab saya dengan mantap dan yakin. Beberapa teman memang hanya mengenal Weezer melalui lagu hits seperti Island in The Sun dan Say It Ain’t So, yang notabene dirilis sudah lama sekali.

Weezer mungkin saja dikenal sebagai band 90-an (kalau di Indonesia sih kayaknya 90 ke 2000), tapi hingga saat ini mereka masih menelurkan lagu dan album baru, tampil di acara-acara tv, dan menyambangi berbagai belahan dunia dalam rangkaian tur. Bagi sebagian orang, Weezer mungkin hanyalah band yang mereka ingat pernah berada di deretan band-band MTV saat mereka remaja, tapi Weezer masih bertahan dengan sangat baik di tengah munculnya banyak band-band baru, grup-grup idol, dan musik elektronik.

Rivers Cuomo, sang frontman yang juga menulis lagu untuk bandnya, bisa dibilang cukup ekperimental juga. Kamu bisa mendengar beberapa lagu baru Weezer seperti berusaha menyelipkan musik-musik jaman sekarang. Gak salah sih, namanya juga perubahan zaman. Saya pribadi, lebih suka formula jadul mereka. Beberapa lagu baru Weezer kurang lekat di kuping saya, tapi tetap menarik memahami isi kepala Rivers dkk, karena setiap album seperti bercerita.

weezer-black.jpg
sampul Black Album (ini sumbernya)

Tahun 2019 Weezer dengan penuh kejutan merilis 2 album sekaligus dalam jangka waktu yang berdekatan. Yang pertama adalah Black Album, sebuah album yang sudah dinantikan cukup lama oleh para penggemar. Rumor soal album ini sudah terdengar pada 2016 ketika Rivers memberi sebuah petunjuk, sesaat setelah merilis White Album. Tahun 2017 rumor ini semakin menguat saat Weezer merilis Pacific Daydream, dengan pernyataan bahwa Black Album hampir selesai digarap.  Tentu saja hal ini bikin para penggemar belingsatan, hampir di setiap cuitan Rivers Cuomo di twitter, tak peduli apapun topiknya, pasti ada saja orang yang menanyakan kapan Black Album akan dirilis.

Seperti tak ingin berlama-lama membuat para penggemar penasaran, Weezer merilis single Can’t Knock The Hustle pada Oktober 2018 sebagai single pertama Black Album. Kemudian lagu Zombie Bastards dirils sebagai single kedua pada November 2018, dan dalam waktu bersamaan Weezer membocorkan wujud sampul Black Album lengkap dengan tanggal rilisnya. Pre order pun dibuka, Black Album dijanjikan bisa didapatkan mulai 1 Maret 2019. Bayangkan kalian adalah peggemar berat Weezer, menunggu 4 bulan lagi rasanya seperti 4 tahun saja, hehe. Sebagai ganti kesabaran atas waktu menunggu ini, Weezer malah merilis Teal Album, sebuah album yang memuat 10 lagu cover dari musisi ternama, diaransemen ulang ala Weezer.

137308-weezer-teal-album.jpg
sampul Teal Album yang warnanya saya suka banget (sumbernya ini)

Sepertinya Weezer ingin mengulang kesuksesan lagu cover Africa dan Rossana milik band Toto. Lagu Africa malah sempat mencapai posisi pertama tangga lagu Billboard Alternative Songs. Sebuah prestasi yang terakhir kali dicapai Weezer berkat lagu Pork and Beans pada tahun 2008. Saya pribadi sangat menyukai Teal Album, terutama beberapa track mengejutkan seperti No Scrub milik TLC, dan Paranoid milik Black Sabbath. Lagu lainnya tak kalah enak, bahkan lagu Take On Me milik AHA yang sudah dicover dalam berbagai versi musisi lainnya juga dibawakan dengan khas Weezer.  Video klip Take On Me pun dibuat dengan menampilkan band Calpurnia dengan Finn wolfhard sebagai frontman-nya memerankan Rivers muda. Album ini menerima banyak pujian, bahkan beberapa teman yang saya kenal mulai mendengarkan Weezer kembali karena album ini.

Saya belum puas memutar Teal Album hampir setiap hari di layanan streaming, ketika Weezer kembali merilis 2 lagu sekaligus dari Black Album, High as a Kite dan Living in L.A. High as a Kite punya melody yang membuat saya tertegun dalam sekali dengar, seperti sesaat masuk ke bagian ingatan Rivers Cuomo yang gelap. Pada sebuah wawancara dengan Pitchfork, Rivers menceritakan masa ketika ia merasa sangat frustasi, dua tahun setelah album Pinkerton (1996) dirilis. Saat itu respon negatif atas album ini membuat Rivers menarik diri dari kehidupan dan bandnya, bersembunyi di kamar yang dinding dan langit-langitnya dicat dengan warna hitam. Black Album adalah refleksi dari masa suram itu, juga bagaimana Rivers menemukan jalan untuk keluar dari pikiran-pikiran terburuk dalam hidupnya.

JH-2830.jpg
Weezer konser (ini sumbernya)

Bisa dibilang, tahun ini Weezer memanjakan Weezerian dengan 2 album, berbagai merchandise unik, video-video klip yang apik, tampil di berbagai acara tv, dan rangkaian tur (meski tidak mampir ke Indonesia, hiks). Tapi lebih dari semua itu, saya bersyukur masih bisa mendengar karya-karya terbaru mereka, karena tidak ada yang tau seberapa kuat musisi kesayangan kamu menghadapi ketakutan terbesarnya. Selagi bisa, dukunglah dengan membeli karya mereka dan menghadiri konser mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: